cerpen : hydrangea – matcha di pagi hari – part 2

Selama tak ada kegiatan Elara lebih banyak menulis atau menggambar sambal sesekali menengok Handphonenya yang tak pernah berdering karena ada pesan masuk apalagi telfon, kecuali dari mamahnya. Saat keadaan seperti itu Elara hanya bisa menikmatinya saja dan membiarkan kesendiriannya menjadi obat dari luka yang dulu sangat dalam dan pernah terfikir kalau luka itu tak dapat disembuhkan. Luka bekas goresan yang dibuatnya sendiri dengan memilih orang yang salah dan meninggalkan orang yang lebih baik dari yang dipilihnya, lukanya semakin jelas lagi ketika orang yang dipilih ternyata tidak mencintai dengan hati dan orang yang ditinggalkan terasa orang yang tulus dari hati membuat semua perlakuannya manis untuk Elara.

Kenapa aku tiba-tiba kefikiran yah ? hati Elara bertanya, dengan gesitnya Elara membuka box yang isinya adalah buku-buku tulis yang biasa dipakai Elara untuk menulis absurd dan curhat tentang harinya, lebih dari 10 buku Elara habiskan untuk menulis buku-buku itu, dibukalah satu persatu bukunya dan mulai mencari buku yang berwarna baik luar atau dalamnya, karena dengan telaten Elara menuliskan buku itu dengan warna yang cerah sesuai perasaannya saat itu, berbunga. Kenapa aku membuangmu kalau aku pernah begitu menyayangimu ? kenapa aku mengacuhkanmu kalau aku pernah menuliskan kata yang indah karna hari yang aku terlewati bersamamu selalu terasa indah ?. Akhirnya tak lama Elara menemukan buku itu yang beberapa halaman terakhirnya diisi oleh tulisan tangan Mario ucapan terimakasih, beberapa bait kata yang ditulis Mario dengan indah dan sebuah kutipan lagu dari Tulus yang pernah menjadi lagu favorite mereka, Elara dan Mario. Aku rindu Yo, bisik Elara sangat lirih sambil memutuskan mengambilnya dan menyimpan buku yang lain di tempat yang sama seperti sebelumnya.

Elara mengambil bulpoint dengan tinta biru dan mulai menulis dihalaman tepat setelah halaman terakhir yang diisi oleh Mario

 

Kenapa aku merindu padahal sangat jelas aku tak berhak merindumu lagi

Kenapa aku kecewa padahal semua kekecewaan itu aku sendiri yang membuat

Sekarang aku merasakannya

Dibuang, seperti aku membuangmu

Menunggu, seperti aku membuatmu menunggu

Aku tahu aku salah

Dan aku tahu waktu yang telah lalu tak akan pernah mungkin untuk kembali dengan baik

Sama seperti saat kita bersama, dulu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s