sepenggal doa yang ku titip pada sang Maha Kuasa

dunia ini tak akan sama seperti yang kau bayangkan, ada hal-hal yang tak bisa kau jelaskan dengan tepat [ jaksa seol ]

hari itu pagi terik, anak-anak lari kesana kemari dengan senangnya sebelum mendengar bel masuk kelas disekolah. suasana ceria tergambar jelas dengan ulasan senyum bahkan tawa yang tak hilang-hilang walaupun lelah setelah berlarian. hari itu tak ada awan yang memberikan tanda, atau awan yang berbisik lembut mengenai sebuah kejadian, semuanya seperti baik-baik saja. sama dengan yang lain seorang gadis yang mengenakan seragam lengkap dan menggendong tas ransel warna biru tuanya, setelah turun dari mobil jemputannya dia ikut berlari bersama yang lain sampai bel masuk memaksa mereka berhenti berlari dan bersiap memulai sebuah perjalanan mengenai pembelajran.

gadis itu menulis sama seperti apa yang gurunya tulis di white board dengan tinta yang berwarna-warni, tak sama dengan kebanyakan sekolah yang lain yang masih memakai papan tulis hitam dan si guru menggunakan kapur dalam proses pembelajarannya sekolah ini memang terlihat lebih modern.

“sepertinya aku meninggalkan penghapusku, bolehkan aku pinjam milikmu” bisik gadis kecil itu pada teman sebangkunya yang memakai kaca mata.

“tentu saja, ini” kata gadis anak berkaca mata sambil tersenyum lembut.

senang rasanya mengingat waktu itu, dimana semua teman adalah sama, semua senyum masih menandakan keiklasan dan memang keinginan untuk saling berbagi. apa saat dewasa seorang masih bisa tersenyum seiklas itu tanpa ada kata terpaksa atau hanya untuk berbohong saja demi kebaikan dirinya sendiri ?

setelah semua selesai menulis apa yang disuruh oleh guru, semua murid diajak keluar kelas untuk mengaplikasikan apa yang mereka tulis sebelumnya, dengan membawa buku tulis, pensil, penghapus, juga penggaris mereka memulai mengukur barang-barang yang ada diluar kelas untuk melakukan perhitungan setelah mendapatkan tiga barang yang mereka inginkan dan masuk kembali ke kelas nanti.

sebagian anak bergerombol di depan kelas dimana daun-daun kecil ditanam dengan rapi, segerombol lain berlari mengambil sepatu dan berpencaran dilapang untuk mengukur daun dan bunga yang berjatuhan dilapang, dan yang lainnya meminta ijin untuk mengukur tanaman obat yang ada dekat ruang administrasi sekolah yang tak jauh dari lapang. kau masih ingat si gadis beransel biru tua ? dia mengukur beberapa daun dan tangkai kecil bunga yang rapuh di depan kelas, dia terlihat senang sekali bahkan tertawa ditengah percakapannya dengan teman sebaya yang lainnya.

“apa kau sudah selesai?” sapa seorang teman yang sedari tadi ada disampingnya

“belum, apa yang aku harus ukur lagi ?”

“itu haha” tunjuk temannya sambil tertawa

“apa?” gadis itu mencoba mencari hal yang ditunjuk oleh temannya

“ini haha” kata temannya menggemaskan, sekali lagi dia tertawa

“ini?” gadis itu melirik, temannya mengangguk “aku tidak bisa mengukur mahluk ini dia jalan terus menerus hahha kau ini haha ” mereka tertawa bersama semut yang terus berjalan tak ingin sentuh untuk diukur.

gadis itu sepertinya memang diciptakan bahagia ditengah segala keterbatasan yang dimiliki oleh keluarganya, dengan segala hal yang terasa kurang itu sepertinya ditegah teman-teman seumuran yang luar biasa memberikan arti lebih dalam hidupnya.

iya, memang kala itu senyum dan tertawa adalah segalanya tapi mengapa senyum tak dapat menyadarkan kalau kadang ada juga hal yang terjadi saat kita tersenyum, dan terkadang itu mengakitkan ?

“anak-anak ayo masuk, waktunya habis” sahut bu guru yang sedari tadi mendokumentasikan kegiatan yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan muridnya yang bukan hanya tentang pelajaran saja.

semua anak berlari masuk ke kelas dengan tergesa-gesa, dan segerombolan anak yang melakukan kegiatan luar kelasnya dilapang juga taman tanaman obat langsung berlari dengan cepat sembari cekikikan karena berpura-pura lomba bersama yang lainnya.

masih ingatkah kamu saat ingin datang paling pertama dikelas demi pujian dari guru?saat dewasa apa kamu berlari agar mendapat pujian dari para pengajar? sepertinya tidak. yang penting adalah kamu tidak kena marahkan? kamu berlari agar tidak dimarahi oleh mereka, iyakan ?

semua anak masuk sambil tersenyum, saling memperlihatkan hasil kerja mereka yang mengukur beberapa barang dan tanaman tadi saat diluar kelas. Walau sebenarnya hasil mereka hampir sama satu lainnya tapi bagi mereka mengetahui milik yang lain adalah menyenangkan.

Semua tampak menyenangkan, tapi ditengah keributan mereka yang menerapkan rumus yang diberikan dengan hasil ukuran yang mereka dapatkan sampai datang seorang yang mengenakan seragam tata usaha, beliau berbisik pada guru dan ketika itu.

“ada sarang?” tanya ibu guru di depan kelas

“…” si gadis dengan ransel biru itu mengacungkan tangan kanannya dengan perlahan

“kemari ikut ibu, sembari bawa tasnya” kata seorang dari tata usaha itu dengan lembut

“…” kembali tanpa kata gadis itu mengangguk dan mengambil ransel biru tuanya

Tak ada satupun yang tahu apa yang terjadi dengan sarang saat itu, apa alasannya gadis kecil itu dipanggil oleh tata usaha, yang mereka tau dia tidak akan kembali karena gadis itu membawa tas biru tua bersamanya.

Yang terjadi saat itu terpikir aneh, apa yang terjadi dihari yang begitu indah itu? apa yang bisa dengan mudah mengubah keadaan yang indah saat itu dengan cepat ?

Apa kamu tau apa yang didengar gadis itu setelah ia sampai ditempat yang  ia tuju setelah dipanggil oleh seorang dari tata usaha ? mari kita berjalan mundur lagi.

Gadis itu sampai didepan halaman tata usaha dan menemukan beberapa keluarganya menunggu dia dan adiknya (yang bersekolah ditempat yang sama dengannya) dengan gusar, dan dengan cepat mereka masuk kedalam mobil yang menjemputnya.

“apa yang sebenarnya terjadi” tanya gadis itu dengan berbisik kepada adiknya

“ tak tahu” adiknya hanya menggeleng

Semua orang dimobil sibuk menelfon seorang keluarga lagi dari kedua anak itu, kedua anak yang tak tahu sama sekali yang terjadi sebenarnya. Mereka hanya terdiam mengikuti kemana mobil itu berjalan membawanya.

Begitu panjang hari itu sampai pada akhirnya, ketika sampai tangisan yang seharusnya tak datang di hari yang indah itu terjatuh juga

Ayah, seorang yang selalu dianggap kopi dipagi hari oleh gadis itu telah meninggalkannya jauh sekali ketempat indah disisi tuhan. Ayah, yang tepat satu hari ia tengok masih terbaring dirumah sakit telah sembuh seutuhnya, dia tidak merasakan sakit sama sekali karena tuhan telah menganggat penyakitnya hari itu. Ayah, yang menurunkan bakat menggambar yang cukup baik kepada gadis itu sudah tidak dapat membantunya dalam tugas menggambar akhir pekan dari sekolah lagi.

Apa kau pernah kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah kamu bahagiakan selain karena lahirnya kamu kedunia ini? Pasti harapan semua anak sama, mereka ingin kedua orang tua yang berusaha untuknya setiap saat selalu ada bukan hanya saat dia wisuda saat mendapat gelar sarjana atau profesorkan? Tapi apa setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama dan bisa merasakan itu juga? Tidak, kau hanya bisa menerima mengenai hal ini karena tuhanlah yang memiliki kehendak dan kau manusia tak punya kesempatan untuk ikut campur tangan.

Gadis kecil hanya terisak diujung ruangan dengan tangan saling menggenggam kakinya yang dilipatkan.

“sarang, ayo kemari” panggil seorang paman yang sebelumnya sangat dekat dengan ayahnya

“…” gadis itu menggeleng dan terisak

“ayo sarang, mungkin ini terakhir kalinya “

Terakhir kalinya mempunyai arti lain kamu tak akan punya kesempatan lain untuk bertemu, apa kamu pernah siap untuk hal itu ?

Gadis itu tak bisa menerima walau umurnya masih kecil tapi setidaknya dia mengerti mengenai kehidupan dan kematian, dimana saat ada sebuah kehidupan siapapun bisa saling berkomunikasi dan kematian adalah saat kamu ditinggalkan dan orang itu tak akan bisa ditemui lagi

Berharap bertemu dengan seorang yang telah tiada dalam mimpi itu tak pernah mudah, bisa saja kau menemukannya sedang tersenyum tapi bisa saja dia lama tak datang dalam mimpimu. Apa itu mudah?

Sampai gadis itu tumbuh, ayahnya tetap jadi cinta pertamanya. Cinta yang mengenalkanya pada dunia yang kadang kejam dan menyenangkan ini. Doanya banyak bagai gunung tapi dia hanya ingin bisa bertemu suatu saat nanti dan menceritakan kisah hidupnya selama ayahnya meninggalkannya sampai akhirnya mereka bertemu kembali hari itu.

Yang Maha Kuasa, Pertemukanlah gadis yang kehilangan ayahnya sejak 12 tahun itu dengan ayahnya kembali suatu saat nanti, karena cintanya tak akan pernah berubah sampai kapanpun hanya satu ayahnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s