cerpen : hydrangea – tiga

Jangan membaca cinta terburu-buru, lebih baik kamu eja dengan baik dan perlahan, suatu hari nanti saat kau menemukan huruf terakhir berharaplah dia untukmu selamanya. [anndrl]

 

Saat itu aku masih tiga belas dan melihat seseorang ada didepan untuk menyampaikan visi misinya untuk osis kedepannya, entahlah hari itu aku mulai menjatuhkan hatiku padanya. Lama sekali aku berusaha untuk mengenalnya sampai akhirnya kita sedekat bumi dan bulan, selalu menanyakan apa yang dilakukan dan meyampaikan apa yang ingin disampaikan. Aku sadar aku hanya adik kelasnya yang mengharapkan sebuah rasa berbalas dari kaka kelas yang begitu dikenal oleh satu Sekolah, tapi saat aku dekat itulah kenyataannya.

Dafa, aku selalu menyapanya dengan tambahan kata ‘ka’ didepannya, wajahnya yang pertama aku lihat memang benar-benar membuatku jatuh cinta dan sikapnya yang sangat terbuka membuatku nyaman bercakap dengannya walaupun hanya lewat sebuah pesan singkat. Beberapa orang menyangka aku dan ka Dafa punya hubungan karena diantara yang lain akulah yang sangat dekat dengan kaka senior yang ternyata gagal menjadi ketua osis itu.

“ Ra, itu ka Dafa“

“ iyaa .. “ aku hanya menjawab datar

“ gimana sama dia ? “

“ apaan ? ka Dafa kan pacaran sama ka Tika “

“ ih udah putus kali “

“ masa ? “

“ iyaaa “

Akhirnya aku tahu ka Dafa sedang sendiri dengan segala hal yang terjadi, sempat dekat lalu jauh sekali entah karena apa dan aku memutuskan untuk memulai hubungan dengan kaka senior yang namanya bukan Dafa dan putus darinya lalu datang kembali sosok yang memang sejak awal aku sukai, itu menjadi cerita yang sungguh luar bisaa karena akhirnya aku dekat kembali dengan dia. Sampai suatu hari

To Dafa           : ka

To Dafa           : ka

To Dafa           : ka dafaaa .

Lama sekali dia tak membalas entah alasannya apa aku hanya menunggu sampai dia membalas karena aku sangat membutuhkan masukannya, saat itu ka Ari mantanku menanyakan apa alasan aku memutuskannya padahal kejadian itu sudah lama berlalu, walauoun aku menjelaskannya dia seolah tak dapat menerima apa yang aku katakana sehingga dia memaksa. From Dafa. ah mataku berbinar, akhirnya dia membalas juga pesan ku, senang sekali.

From Dafa      : apa sayaaang ?

Aku tersendak, sungguh aku tak tahu apa yang dia fikirkan dengan memanggilku dengan panggilan yang setahuku itu bisa disampaikan kepada seorang yang memiliki sebuah hubungan.

From Dafa      : …

Kaka baru nyampe rumah nih, hp nya tadi mati ini baru nyala banget

 

Aku tak tahu apa yang aku harus balas, karena panggilannya yang membuatku buyar saat itu juga. ka Ari aja ga pernah tuh panggil gitu ke aku eh ka Dafa manggil gitu, aku sebal tapi malah tersenyum girang.

 

To Dafa           : em, engga sih ka. Gak jadi

From Dafa       : eh kenapa sih? Ceritain aja kali

To Dafa           : engga ah ka

 

Ga jadi, gara-gara kaka panggil gitu aku jadi buyar ah. Hatiku bergumam

 

From Dafa      : ceritain aja sayaaang

 

Lagi ? sungguh aku tak percaya saat itu dengan apa yang sebenarnya ka Dafa lakukan, akhirnya aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tentang ka Ari yang begitu ngotot minta penjelasan dan ingin balikan lagi, dan ka Dafa malah

 

From Dafa      : yaudah bilang aja Ara udah punya yang baru pasti dia ga bakal gangguin Ara lagi deh, percaya sama kaka.

To Dafa           : tapi kan ka gak bisa gitu

From Dafa      : percaya deh, tinggal bilang gitu doang kok gak gimana-gimana

 

Sesederhana itu memang tapi sejak hari itu harapku kembali sama seerti saat aku masih tiga belas, aku sangat menyukainya. Sampai hari perpisahan pun tiba ka Dafa dan yang lainnya dinyatakan lulus dari Sekolah, bagiku bukan hanya aku melepaskan ka Dafa dan yang lainnya pergi tapi aku juga harus melepas rasa yang sudah luar bisaa ini dari hati dan entahlah aku tak tahu aku bisa atau malah sebaliknya. Setelah aku kehilangan nenek dan ayahku aku tak bisa menangisi seseorang tapi saat lampu gedung serba guna dimatikan dan semua siswa menyanyikan sebuah lagu untuk ka Dafa beserta yang lainnya, disitu air mataku jatuh, yah aku menangis. Walau aku tak mengetri kenapa semua itu bisa terjadi, aku hanya menikmati setiap butir air yang jatuh dari mataku. Selamat berjuang lagi ka Dafa, bisikku dalam hati.

Semenjak hati itu aku selalu merasa kurang tanpa adanya sosok yang dapat aku lihat setiap aku berjalan menuju kelas dari asrama yang tak sepenuhnya aku sukai, aku hanya berusaha tersenyum sepeti bisaanya tertawa sesuka hatiku walau hanya sekedar mengusir kerinduan yang kerap mengganggu. Entah, entah berapa buku yang aku habiskan untuk menuliskan rasa rindu yang berkecamuk dalam hati dan entah berapa ribu atau puluh ribu kata yang aku torehkan pada setiap lembar yang aku ganti setiap sudah penuh dengan kata indah bak penulis syair sesungguhnya. Tak tahu apa yang aku lakukan sebenarnya dengan perasaan yang begitu dalam menurutku walau pernah satu kali ka Dafa katakana

cinta bulan dan matahari itu sangat suci Ra, mereka tak pernah bertemu tapi saling menguatkan “ aku selalu mengingat kata itu, seolah kata itu perumpamaan antara aku dan dia, walaupun itu hanya kata yang banyak orang katakan untuk salam perpisahan.

*****

Lama sekali rasanya tak mendapat kabar darinya, entah karena aku selalu menunggu atau memang begitulah waktu yang dilewati dengan sebuah kerinduan yang berkepanjangan, hingga suatu hari, itu ka Dafa, hati kecilku berteriak. Sungguh tak menyangka kehadirannya begitu membuatku gembira.

“ sarah .. “ panggilanku belum selesai

“ iya tuh ka Dafa“ pastilah dia tahu apa yang membuatku sebahagia ini “ sana samperin “ suruhnya dengan agresif

“ enggak ah “

“ loh bukannya rindu banget ya ? “

“ yah gak mungkin aku panggil juga sih, lagian pasti dia kesini ada acara lainkan? Mana dia ada dirumah pembina lagi “ jelasku agak ragu

“ yah gak apa, nanti pembina juga ngerti “

“ gak mungkin sarah “

Akhirnya kami berjalan melewati rumah pembina dengan ka Dafa yang duduk di bangku depan sebelah pintu depan rumah itu. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat itu semuanya terasa jelas namun tak dapat aku jelaskan, yang aku tahu wajah itu masih sama wajah yang senyumnya selalu aku rindukan, suara itu masih sama, sama seperti pertama aku mendengarnya saat dia orasi tiga tahun lalu, semuanya masih sama hanya jarak kita yang berbeda tak saling berdekatan lagi.

 

 

Harusnya aku tak menunggumu ka
Menanti musin berganti dengan perih cinta yang tak bisa ku lepas
Membawa kisah yang tak ada akhirnya
Harusnya kamu mengerti ka
Saat aku mulai berbagi kisahku pada kamu itu
Satu pertanda bahwa aku berpegasng erat padamu
Karna aku rasa, kamu ada untukku
Tapi ka
Sampai kemarau datang lagi dan datang lagi
Kenapa kamu tetap terjaga sendiri dan aku berusaha menjaga diriku sendiri ?
Petikan gitar yang aku mainkan itu untukmu ka
Lagu yang aku nyanyikanpun begitu, untukmu
 
20 oktober 2012
Elara Puteri neredia

 

Malam itu setelah aku menenukannya, hanya beberapa baris saja yang aku tuliskan untuk ka Dafa itu hanya tentang rindu yang dalam dengan kisah yang tetap tak berjalan dengan baik, menunggu tanpa kepastian apakah orang yang kamu cintai itu membalas. Suara obrolan ka Dafa tadi di depan pintu rumah pembina masih terngiang dengan jelas, andai aku masih bisa mendengar suara itu dengan baik tanpa dibatasi oleh keraguan dan sebuah pagar yang menghalangi kita tapi jelas semua hanya sebuah pengandaian entah kapan bisa terjadi.

“ Ra, tidur Ra “ kata Sarah yang melihatku sedang menulis.

“ iya bu guru “

“ jangan terlalu di fikirin, kalo emang bisa ketemu lagi dia ga bakal pulang dulu toh dia dating malem-malem pasti nginep dan besok ketemu lagi “

“ iya bu guru bawel “ kataku malas

“ dengerin anak nakal, iya iya aja lu tapi tetap galau  “ aku menarik semilut sampai menutupi kepala hanya berharap mimpiku adalah ka Dafa. Ah, benar semoga besok aku bisa melihat lagi laki-laki itu .

Menurut pepatah, jangan genggam cinta dengan terlalu kuat, karena cinta itu seperti pasir semakin erat cinta itu kau genggam maka sedikit demi sedikit cinta itu akan hilang seperti pasir yang keluar dari genggaman.

Mungkinkah aku tak terlalu kuat menggenggam cinta ini? Aku takut kalau aku akan kehilangannya meski itu hanya perlahan saja.

 

*****

 

Akhirnya aku tahu alasan tempo hari ka Dafa datang ke sekolah, dia datang untuk menjadi pelatih salah satu ekstrakulikuler disekolah dan dia akan tinggal di tempat yang sama lagi seperti dulu. Walau itu tak lama, karena dia mulai melanjutkan kuliahnya tapi kisah yang aku jalani terasa begitu indah.

Dia memanggilku, menyebut namaku, mengajakku untuk berbicara, itu tak akan pernah kurang lagi untukku. Semua orang tahu akan kedekatan kami bahkan beberapa orang berfikir kalau aku dan ka Dafa mempunyai hubungan padahal jauh dari semua itu ka Dafa benar-benar tak menganggapku lebih dari seorang adik kecilnya yang selalu menganggu hidupnya. Tuhan ini menyakitkan. Lagi aku tak menjalani hidup dengan cinta hanya berharap dan mulai menyesali segala hal yang terjadi padaku, mencintainya, merindukannya, menyimpan harapanku padanya, semuanya begitu menyakitkan.

Setelah aku beranjak lagi tepat sebulan sebelum aku merayakan ulang tahun ke-17 yang banyak orang bilang sebagai ulang tahun terbaik aku bertemu dengan kaka kelas yang satu angkatan dengan ka Dafa, aku hanya berbincang sebentar lalu berlalu. Hari itu rasaku pada ka Dafa sudah tak sebesar yang dulu, entahlah aku memang lelah menunggu dan aku berfikir kalau ada baiknya aku memikirkan hal yang lebih bermanfaat untukku, tak usah soal laki-laki melulu tak usah soal cinta melulu, karna kalau aku mencintai pemiliki cinta pasti pemilik cinta akan memberikan cinta terbaik untukku

Sudahlah, aku sudah jauh lebih dewasa bukan hanya tentang cinta yang harus aku ketaui tapi jauh dari itu masa depan yang di dalamnya ada karirdan pendidikan, itulah yang harus aku fikirkan.

“ Ra, mau tau ga  ? “ teman sekasurku mengganggu tugas matematika yang hamper selesai

“ Apaan ? “

“ tapi jangan gimana-gimana ya ? janji “

“ bentar aku beresin ini dulu, baru kamu cerita ya “ kata ku pada Rahma yang tiba-tiba naik ke kasurku

“ Ya elah “

“ bentaran doing sih “ aku tak melihat wajahnya “ penting banget “

“ emaaaang Ra “ rahma malah mengambil buku diariku yang semua isinya tak jauh dari cerita mengenai ka Dafa.

Tak terlalu banyak memikirkan dan penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Rahma dan membiarkannya membaca buku yang mungkin sudah berkali-kali dia baca itu.

“ apaan ? “ kataku sambal membereskan buku matematika yang berserakan dikasur kemudian menyimpannya di tas ranselku.

“ tapi janji, gak bakal gimana-gimana ya ? “

“ apaan sih ? “

“ kan tadi ada ka Jey tuh “ kata Rahma memulai

“ iyaaa … “

“ nah dia kan temen seangkatan kaka aku sama ka Dafa juga tuh  “

“ iyaaa … “

“ terus dia bilang kaka aku bakal ke sini lagi nanti bulan depan “

“ iyaaa .. terus  ? “

“ kaka aku bakal dateng bulan depan gara-gara … “ Rahma agak terbata dan kebingungan memilih kata. “ hem .. “

“ kenapa sih ? “ aku mengambil buku diari yang di pegang dari tangan Rahma dan beberapa kali membuka lembar tanpa membacanya sedikitpun.

“ gara-gara ka Dafa mau nikah Ra “ katanya sangat hati-hati, aku terdiam beberapa saat, hatiku tidak memberontak sedikitpun hanya perasaan aneh tak percaya yang ada karena yang aku tahu sampai terakhir aku dan ka Dafa berhubungan dia masih sendiri tanpa pendamping. “ gak apa kan Ra ? “

“ hah ? “ aku aga kebingungan “ iya gak apa kok, bagus “

“ beneran ya? “

            “ iya kali biasa aja toh aku pernah nulis ini sebelumnya “ aku membuka halaman entah yang keberapa dan menyuruh rahma membacanya. Waktu itu entah apa alasannya aku menuliskan beberapa kalimat itu, semuanya mengalir begitu saja.
 
Untukmu yang ada di masa mendampinginya
Hey ..
Aku mungkin tak mengenalmu
Tapi aku mohon, aku titip dia ya  ?
Jaga dia
Jangan sakiti hatinya
Aku memang bukan orang yang berarti untuknya
Tapi untuku, dia adalah salah satu orang yang berarti dalam hidupku
 
Tolong berikan senyum terbaikmu untuknya
Karena yang aku tahu dia suka melihat orang lain tersenyum
Bantulah dia melupakan masa lalunya
Karena dengan hal itu kamu akan menjadi satu untuknya
 
Bagikan ceritamu kepadanya
Maka dengan mudah dia akan menerimamu apa adanya
 
Jika kau dengan mudah mendapatkannya
Rasakanlah betapa sulitnya aku mendapatkannya
Maka sungguh
Jagalah dia
 
November
Elara Puteri Neredia

 

“ kapan kamu nulis ini Ra ? “ kata Rahma setelah menutup buku itu dan menyimpannya dibelakang bantalku.

“ gak tau lupa, ngalir gitu aja sih “ kataku tenang

“ berarti udah ada feeling gitu ya? “

“ gak tau Ma, selama ini juga kita taunya dia beru putuskan ? terus tau nikah dari kamu gitu juga “

“ iya sih, kamu tau orangnya ? “

“ engga “ aku hanya menggeleng “ ah ulang tahun terindah aku tahun depan dari dia itu yah dia nikah “ kataku singkat “ padahal tahun lalu, kamu tau kan Ma ?” Rahma mengangguk, iya hampir semua orang tahu kalau tahun sebelumnya ka Dafa tiba-tiba memanggilku dan memberikan ku sebuah buku bergendre family romance, aku suka buku itu bercerita mengenai bagaimna seseorang berjuang demi cintanya. Waktu itu aku pernah berfikir mungkin ini sinyal lain kalau dia juga menyukaiku, tapi ternyata dia memilih meminang orang lain.

“ katanya sih ka Dafa di jodohin “ lanjut Rahma pelan

“ wah iya ? “ aku bersikap biasa saja “ ya udahlah gimana ka Dafa aja “ kataku singkat.

“ aku tidur disini ah nemenin anak kecil yang mencoba kuat ini “ kata rahma menggoda.

“ apaan sih “ aku membuat jarak di kasurku dan kita tertawa biasa.

 

Begitulah cinta terkadang, meski kau mencintai orang yang sama tidak mungkin cinta yang kau berikan aka nada dikadar yang sama seperti yang selalu kamu katakana, bisa saja bertambah atau justru berkurang. Aku bukan menyadari aku tak bisa bersamanya, tapi tentang aku lelah harus ada dalam posisi yang tak pasti meskipun aku menyimpan harapan yang begitu besar padanya. Akhirnya aku tahu cinta ku yang suci tak bisa dipertemukan dengan cintanya, seperti perumpamaan si bulan dan matahari yang tak pernah dapat bertemu.

Entah penantianku kurang atau aku yang bodoh menunggunya dengan lama sekali, sampai aku kehilangannya degan sangat jelas, ya jelas karena dia bersama yang lain bukan pergi dengan menjanjikan kembali.

 

You frustrated me with this love, you’ve make me so despertey in love and now you let me down – you ten2five –

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s