cerpen : Hydrangea – Empat

Ada saatnya kita mengubur suatu hal dengan maksud menyembuhkan luka, walau begitu di ingatanmu tak akan pernah hilang kecuali tuhan mencoba mengubah apa yang dimiliki sebelumnya maka kau bisa melupakan suatu hal untuk selamanya.

[anndrl]

Aku masih orang yang sama, yang diberi nama Elara Puteri Neredia dan masih bersekolah di Asrama Nusa Bangsa, masih dipanggil anak kecil karena tinggiku yang tidak bertambah dan anak biasa saja yang suka menulis dan membuat mural sembarangan di buku sketch.

Menurut temanku dia menungguku sangat lama, waktu itu aku dipilih divisi Bahasa untuk menjadi sekertaris di acara mereka dan aku menyetujuinya dengan terpaksa. Aku baru mengenalnya walau aku beberapa kali melihatnya aku baru mengenalnya dengan baik di acara Bahasa itu. Namanya Azzhar, berbadan berisi dengan kulitnya yang agak gelap di banding yang lain. Awalnya ini hanya tentang ketua dan sekertaris yang rapat bersama dan kalau ada yang kurang mengenai acara atau seputar proposal aku harus menghubunginya, tapi kedekatan kami berlanjut sampai aku di rumah dengan berbincang di media social.

Waktu itu masih jaman facebook, dan percakapan kami hanya seputar hutang entah apa yang harus dia bayarkan kepadaku. Mengenai kejadian itu aku tak bisa dengan baik mengingatnya, hanya saja kesepakatan yang akhirnya kita ambil adalah azzhaar akan memberiku sebuah coklat, entahlah.

Sejak segala kejadian dan percakapanku yang hanya sekedar acara ternyata semuanya berkepanjangan, dia memang menepati janjinya memberiku sebuah coklat yang dititipkan lewat adikku yang satu sekolah, aku hanya mengucapkan terimakasih dan aku kira semuanya sudah begitu saja. Ternyata salah dibalik semua itu dia menyimpan sesuatu, setiap pulang selalu ada percakapan berkepanjangan lewat BBM dan sesekali berbincang lewat telfon, entah apa yang sebenarnya aku lakukan dengan semua itu hanya aku senang memiliki teman baru yang mungkin bisa menempatkan dirinya tepat seperti teman yang lainnya.

 

*****

 

Beberapa episode terlalui dengan baik, aku masih berteman dengannya dan masih sering bercakap walau sekedar lewat twitter dan mengecek twitter menjadi kegiatan penting setiap ke Lab computer atau ke warung internet di sekolah karena aku tahu pasti ada pesan baru dari Azzhar.

Saat aku duduk di kelas 2 SMA aku sadar yang azzhar inginkan adalah lebih dari sebuah pertemanan dia mengirimiku pesan yang tertuju pada sebuah hubungan lebih dari yang aku dan azzhar jalani beberapa tahun kebelakang, tapi aku masih enggan karena untukku pertemanan adalah langkah baik untuk tetap menjaga segala hal yang ada sebelumnya.

“ aku gak bisa Ra “ selama dua tahun belakangan ini memang Rahma-lah yang tahu segala hal tentang aku dan azzhar, dan dia menyimpan semuanya. Sebelumnya azzhar sempat bilang kalau dia ingin memiliki hubungan lebih denganku dan dia juga bercerita kalau aku menolaknya.

“ alesannya Ra ? “

“ hal terburuk dalam suatu hubungan itu putus Ma, dan itu yang paling aku takutin “ aku diam sesaat “ kebayang ga Ma kalau awalnya deket dan tiba-tiba seolah gak pernah kenal ? “

“ ke bayang” katanya singkat

“iya kaya elu sama .. “

“diem lu jangan ngomongin dia “ kitapun tertawa.

Hal yang paling sederhana aku liat dari hubungan Rahma dengan mantan pacarnya, mereka seperti orang yang tak pernah kenal sama sekali padahal jauh sebelum itu terjadi mereka sangat dekat bahkan perbincangan mereka jauh kepada mimpi bersama di masa depan,. Untukku setelah berpisah, seorang harus bisa menjaga perasaan satu sama lain dan teruskan pertemanan yang sebelum hubungan mereka jauhpun mereka adalah teman.

Teman, banyak hubungan yang memang diawali dengan sebuah pertemanan dan akhirnya memutuskan untuk saling bersama dengan alasan nyaman dan karena dari sebelumnya pasangannya selalu ada untuknya, saat hubungan lebih jauh dijalani kadang semua berbeda entah lebih baik atau sebaliknya. Baik kalau dari awal pasangan memiliki hal yang ingin dicapai bersama, sebaliknya karena apa yang diinginkan salah satu pasangan entah perempuan atau laki-laki tak bisa di penuhi oleh pasangannya, yang baik pun tak akan selamanya baik selalu ada liku di tengahnya entah untuk menguji seberapa kuat dan seberapa jauh mereka akan bertahan atau justru memberi tahu salah satu dari mereka bukan orang yang tepat lagi untuk memberi kebahagiaan untuknya.

Aku tak bisa berfikir apapun dengan baik setiap kali seorang bertanya mengenai aku dengan azzhar, aku hanya bisa menjawab kalo azzhar itu temanku walaupun mungkin kata yang tepat itu seperti friend-zone. Banyak orang yang tahu kalau azzhar menyimpan rasa yang beda dengan apa yang aku simpan sejak awal berteman, kadang aku tak tahu apakah aku harus menjaganya atau membuang atau apa yang aku tak pernah bisa lakukan sampai masa menjabat datang, artinya aku sudah berteman baik dengan azzhar hampir tiga tahun, pertemanan yang diawali saat masa menjabat pertama datang.

[setelah lama, aku kembali menulisnya, semoga kau mengerti.]

Banyak hal yang kita lewati dan bagiku semua hal itu berarti, sampai dititik Azzhar menampakkan semuanya bahkan menceritakannya pada Rahma, di tahun ke tiga, aku selalu tersenyum senang kala mendengar cerita dari teman sekasurku itu Karena memang azzhar adalah salah satu sumber semangatku, karena ditengah sakit yang datang kepadaku dia yang datang dengan kata-kata indah, yang aku tahu dengan baik dia tulis dengan susah payah, iya azzhar pernah bilang kalau dia bingung harus nulis apa dan dia malah coret-coret rintik hujan disalah satu buku yang aku tulis untuknya. Orang-orang memang menyangka ada sesuatu diantara kami, walau memang iya kita memang hanya teman yang saling menyayangi yang saling mendoakan satu sama lain, yang saling menyemangati, yang saling mengingatkan walau hanya untuk rajin minum. Aku senang kalau aku harus menulis tentang azzhar, bagiku dia spidolku yang membuat lembar putih berwarna dan indah. ‘Dibalik semangat ini ada kamu’ Terimakasih azzhar.

[aku membuka kotak penuh dengan kertas yang dulunya harum dengan parfummu, ingat?]

Aku dan azzhar sudah mulai sering bertengkar, seringnya sih Karena aku cemburu Karena dia yang terlalu dekat dengan yang lain yah bagaimanapun aku tidak ingin apapun terjadi antara aku dengan azzhar aku ingin semuanya baik sampai akhir yang tak ingin sama sekali kita rencanakan. Azzhar mau berusaha berubah dengan alasan aku selalu dibuat kesal dengan tingkahnya itu, walau diakhir surat itu aku tertawa ‘ NB; oh iya surat.a ga wangi nih, parfume nya abis hehe’ yang aku tahu azzhar punya banyak cara membuat orang yang disayanginya tersenyum.

[Suratnya memang gabanyak, aneh, rasanya dulu kita sering saling kirim surat, bukankah gitu?]

Tahun ke empat-pun datang entah apa yang membuat aku dan azzhar menjadi jauh, saat itu seseorang datang dan benar-benar mengambil posisi yang dulunya tempat azzhar, orang-orang bertanya ‘ kenapa bisa sama dia?’ dan lagi entah apa alasannya aku bisa bersamanya, lama aku melupakan semua hal tentang azzhar, tentang lagu-lagu tulus yang sangat menceritakan kisah aku dan azzhar, barang yang azzhar bawa dari padang untukku, juga senyum yang tak pernah ku temukan lagi datangnya dari orang yang sama. Selama enam bulan aku lupa semua itu seperti aku sedang dihipnotis, bukan lebih tepatnya aku dibodohi oleh seorang yang jauh sekali tingkatan kesetiaannya dari azzhar. Dan aku menyadarinya saat kita berakhir, aku menulisnya di hydrangea-satu. Itu kisah yang keterlaluan.

Saat itu, saat semuanya berakhir yang aku ingat adalah aku bodoh merindukan sosok azzhar yang jelas lukanya sangat dalam yang sampai kapanpun bukan aku yang bisa menyembuhkannya, iya azzhar perlu menemukan orang yang tepat yang bisa menyembuhkannya. Semua orang membandingkan azzhar dengan si pengecut itu, aku hanya tersenyum dan mengatakan dalam hati ‘semuanya jelas berbeda bahkan tak titikpun ada yang sama’. Aku kerap diingatkan dengan kisah dengan azzhar hanya saja bagiku lebih baik untuk tidak mengingatnya Karena bukan hanya tak pantas tapi ada rasa kesal sendiri yang harus aku bayar, dan aku tak bisa melewatinya.

[baru saja kita bertemu, aku yakin kau sudah menemukan penyembuh lukamu, cepat sembuh, kembalikan cintamu pada orang yang tepat, bukan seperti aku yang sempat merobek bagian penting dalam dirimu]
Bagiku, kisah ke-empat ini adalah kisah puncak pembelajaran cintaku, ini adalah salah satu alasan aku tak mau menulis lagi untuk seseorang, cukup mereka yang pernah aku tulis dalam setiap buku yang berbeda. Sudahlah sekarang aku marah pada diriku sendiri dan hanya bisa memegangi kotak penuh kertas itu yang aku harap masih bisa ku cium harumnya. Terimakasih sudah menyuruhku menulis, dan sekarang aku memberanikan diri melanjutkan kisahnya walau tentu cara aku bercerita berbeda kali ini.

 

Hydrangea selesai,

 

Cheers.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s