Sebelum Persimpangan

“Sudahlah .. ”

Mungkin bagimu kata itu terdengar biasa tapi bagiku hari itu aku benar-benar mundur, ku ingatkan pada diriku untuk tak maju barang sedikitpun atau bagiku walau hanya memikirkan aku akan maju kembali, tidak aku sudah mundur dan ini yang terjauh. Sekarang jika kau mampir, ada bagian dalam diriku yang marah tak tahu alasannya apa, aku tak suka. Kala kau datang, hatiku bergumam bahkan berteriak penuh amarah ‘siapa kamu ?’ ‘untuk apa kau kesini’. Kita sudah berbeda tak seharusnya kau nampak dengan jelas di dekatmu. 

” ….. ”

Atau hilang, kau hilang mungkin kau ingin semua segera berahir, maka aku mencoba pergi dan tak datang kembali. Sekalipun aku rasa ada bagian dari diriku yang membutuhkanmu. 

” Fressia ”

Kau tiba-tiba memanggilku, kau tau aku sudah jauh dan itu membuat aku sangat ingin kembali, hanya saja … aku pergi … seperti janjiku dan inginmu. Untuk beberapa orang aku adalah Fressia yang sama tapi berbeda saat pertemuan kita di persimpangan dengan senja yang membawamu pergi. Walau kerap kali ku buka buku diariku tapi aku tak pernah membuka lembar yang aku tulis dengan penuh warna atau gambar, aku hanya membuka kertas putih dengan tinta hitam. 

Mengapa kita bertemu di persimpangan .. jika kita tak bisa berpasangan .. mengapa kita bertemu di tengah senja .. kalau kau sekarang hanya fatamorgana … 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s