Menuju Sajak Timur|| Random Talk #2

Sampai detik ini ‘Sajak Untuk Embun’ masih belum selesai, ini kaya challange buat diri sendiri sih sebenernya. Karena Embun itu perempuan atau tepatnya kalau kata Timur wanita manis jadi aku harus bisa jadi laki-laki yang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama perempuan yang bahkan ngobrol aja belum pernah. Gimana tuh? yah jadilah ini tantangan, sebelumnya beberapa tahun lalu aku pernah kirim naskah tulisanku ke penerbit dan komennya adalah “tokoh dinovel kamu kurang bernyawa.” Aku inget jelas itu walaupun kayanya cerita itu aku kirim sekitar 5 tahun lalu.

Nah nyambung deh sama ‘Sajak Untuk Embun’ kalau difikir-fikir tokoh perempuan yang aku bikin dulu aja belum bernyawa, apalagi ini laki-laki. Jelas aku bukan laki-laki jadi ga tahu pasti, tapi aku bakal coba sekuat tenaga buat bikin surat untuk Embun. Kaya kalau udh nemu orang yang tepat terus bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Apaan sih.

Sampai situ saja mengenai sajak untuk Embun.

Lagi tadinya aku ingin menceritakan mimpi, tapi lagi, harus kuurungkan. Entahlah itu tidak menjadi penting lagi. Yang harus dibagikan adalah tentang khayalan yang kemarin-kemarin seolah jadi obsesi yang =.

Jadi khayalan itu diawali sama pertanyaan ‘Kenapa aku sesendiri ini?’ lalu dijawab dengan pikiran sekelibat ‘Kamu dikutuk sama orang yang dulu perjuangin kamu.’ atau ‘Mungkin dimasa lalu aku jadi pembunuh orang dan dimasa sekarang dibenci banyak orang.’ Baiklah untuk jawaban kedua itu didasari oleh cerita drama Chicago Typewriter, gak murni pemikiran aku sendiri.

Dari pertanyaan-pertanyaan itu aku mikir untuk memunculkan orang-orang yang aku inginkan difikiran aku sendiri. Aku munculin sosok Heksa, Erlan, sama Elin di fikiran aku, sempet berfikir kalau mungkin sebentar lagi aku jadi gila, iya gila beneran. Sempet takut sama khayalan-khayalan aku sendiri tapi beberapa hari kemarin aku bener-bener menikmati percakapan aku sama mereka difikiran aku.

Malu untuk menjelaskan bagaimana percakapan aku sama mereka. Biar aku simpan saja sendiri, terlalu menyedihkan rasanya kalau harus menceritakan mereka dan tentunya memalukan.

Tapi akhirnya aku memutuskan untuk berhenti. Tepatnya kemarin aku mulai mengakhiri percakapan dengan mereka, lalu berfikir dan buat janji sama diri sendiri. Cukup membuat diri sendiri bahagia melihat mereka (bukan Heksa, Erlan, dan Elin) tapi mereka yang punya pasangan atau temen rasa keluarga dihidup mereka. Kini aku merasa cukup, entah apapun yang aku lewati dikehidupan aku ini, memang benar yang harus dilakukan manusia saat merasa memiliki banyak kekurangan adalah bersyukur, menikmati, tertawa, dan hal positif yang kadang ga kita sadari selalu membawa bahagia.

Kini, hari ini aku mencoba menghancurkan tembok penghalan hubungan aku dengan manusia lainnya, mulai bercakap baik lagi dengan mereka. Dalam kata lain kini aku sedang membangun hubungan dengan orang-orang disekitar aku. Berharap ini bisa membuat hidup aku normal kembali dan tidak ada lagi tokoh-tokoh khayalan yang aku munculkan dalam diri aku sendiri.

Iklan

2 respons untuk ‘Menuju Sajak Timur|| Random Talk #2’

  1. deeiqlima berkata:

    Aku akan selalu jadi penunggu sajak untuk embunmu
    Keep fighting!😆

    (Hidup itu sebuah perjalanan dan dalam setiap perjalanan selalu ada pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s