Perjalanan Rasa #4: Melihat Tanpa Mata

Minggu-minggu ini sungguh merupakan pelajaran berarti yang jika aku hidup dengan cara lain, atau dengan orang lain mungkin tak akan pernah aku dapatkan. Sungguh minggu ini sangat sulit untuk dijalani. Ramadhan berat dengan segala keluhan yang harus aku terima setiap bangun sahur. Terkadang ingin marah atau ikut mengeluh dan ingin berkata aku lelah mendengar keluhan seperti itu. Tapi lagi aku sadar, jika bukan aku, siapa lagi yang akan mendengarkan keluahan ibuku sendiri, padahal saat seorang dokter muda memberi nasihat untuknya aku sungguh cemburu, tak rela seseorang dapat membuat mamah (begitulah aku memanggilnya) lebih tenang daripada aku yang tak berguna.

Kadang, aku merasa akulah yang memiliki hidup paling berat. Tak bisa banyak berkumpul dengan teman-temanku, itu yang paling aku sering keluhkan saat terpaksa harus menjaga toko milik mama. Namun aku tahu, mamahlah yang akan paling merasa bersalah. Karena akupun yang bahkan belum memiliki seseorang yang mungkin suatu hari nanti akan berjanji hidup denganku selamanya pun, sudah berfikir tentang hidup seorang anak nantinya yang haruslah layak. Maka aku putuskan, hari yang aku lewati untuk menunggu pembeli datang sebagai baktiku sebagai seorang anak.

Kisah temanku membuatku merasa lebih kecil dan bodoh, Ibunya berkata pada temanku “Tertawalah sepuasnya di kampus, perlihatkan kau baik-baik saja. Dan biarkan jika matamu sudah tak sanggup menahan serbuan air mata saat kau ada dirumah.” Seketika aku membandingkan aku dengannya, aku tak bisa melakukannya. Saat aku mendapatkan omelan saja, aku akan manyun selama hari itu berjalan. Lalu yang sangat aku ingin aku tanyakan Mengapa dia bisa melakukannya dengan begitu baik? Apa dia sedang bermain peran? sampai saat ini aku belum sempat menanyakan hal itu, Yang aku bisa simpulkan dia adalah wanita yang hebat.

Aku tak melihat bagimana dia menjalani kehidupannya selama ini, aku hanya mendengarnya. Dan hidup yang tidak dia harapkanlah yang membuatnya hebat seperti sekarang. Seperti yang aku lihat.

Aku tak melihat bagaimana dia menangis kala malam datang dikamarnya. Tapi aku melihat kejujuran dan ketegaran dari matanya yang berkantung mata sebab terjaga sepanjang malam. Ya aku mendengarnya hanya tidur 2 sampai 3 bahkan paling lama 4 jam setiap harinya. Sungguh hidupku tak berguna, kau tahu aku bisa tidur siang sampai 2 jam. Entah aku manusia atau kuda nil yang bisa tidur 16-20 jam setiap harinya.

Aku tak tahu pepatah mana yang mengatakan “Mungkin hidup yang kamu milikilah yang orang lain harapkan.” Bukankah pepatah itu benar? Berapa kali kita mengeluh dalam sehari? Berapa lama orang lain menangis karena hidupnya tak berpihak padanya? Dunia memang seperti itu bukan? Sebagian orang berbohong tentang kehidupannya, sebagian lagi sibuk mengeluh mengharap hidupnya ditukar.

Minggu ini, kisahnya membuatku banyak bersyukur terimakasih mba, pelajaran yang berharga meski sebenarnya kamu ga mengajar didepan kelas. Lagi aku cukup membayangkan jika aku memilih teman yang salah, yang hanya bisa membuatku makan enak karena tahu cafe  mana yang menghidangkan makanan kelas atas. Apa aku akan mendapat kisah yang bisa membuatku memandang hidupku pun sangat istimewa? Apa sekarang aku bisa sangat bersyukur atas hidup yang aku miliki ini?

Mba, terimakasih kisah yang kau bagikan sangat berarti untuk membuatku bisa melihat dunia indah meski tak melihatnya secara langsung. Karena aku yakin, Allah memang menyiapkan dunia yang indah dengan segala problematika yang harus kita hadapi sebagai ukuran sudah di tahap mana kita bisa bersyukur dan bertawakal kepadaNya.

 

Terakhir, Selamat menempuh lebaran di minggu depan semuanya. Semoga Ramadhan ini membuat kita banyak belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Ps:

Kepada Ramadhan.

Ramadhan, kenapa kau datang sangat singkat? Aku dan mamah tak menyangka minggu depan kau akan pergi (kemarin aku dan mamah debat “teh, minggu depan lebaran” “dua minggu lagi mah” langsung cek kalender) dan dengan baiknnya kau siapkan iedul fitri yang berbahagia. Datanglah lagi tahun depan, tahun depannya lagi, tahun depan depan dan depannya lagi Bulan Ramadhan.

 

Cimahi, 7 Juni 2018//8:45 PM//

Iklan

2 respons untuk ‘Perjalanan Rasa #4: Melihat Tanpa Mata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s