FiksiMini #1: Kita Sudah Berubah

Entah kenapa suka banget sama cerita ini (padahal yang buat diri sendiri juga,) ini fiksimini pertama yang sekali duduk langsung jadi tanpa ada rombakan lagi langsung kirim, iya sih ada beberapa part yang kepaksa dihapus soalnya pemakaian karakternya terbatas jadi harus dihapus. Memang cerita ini nggak berhasil jadi kontibutor, tapi dengan cerita ini aku dapet pelajaran berharga dari mba Amanda (juri waktu lomba.) Dan dari situ aku ngerasa, aku nggak hebat menulis sama sekali hanya suka atau hobi yang kadang dibumbui rasa ambisi yang membuat karyaku seolah jadi paling baik. 

Nah ini udah aku edit sebisanya aku, terutama pemakaian EYDnya walaupun masih banyak salah pastinya. Karena aku suka ceritanya, aku bagiin deh cerita ini buat pembaca semua. Sebelum klik tulisan lain, sempatkan komen ya untuk perbaikan menulis aku.

—————————————————————————————————————————————-

KITA SUDAH BERUBAH

oleh: Anida Nurul Hasanah

 

Hari itu tak seperti biasanya, Fressia berjalan sendiri ditrotoar menuju gedung komunikasi dihari libur. Dengan earphone yang terpasang ditelinganya, sesekali ia menatap segerombolan orang yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Fressia berjalan sangat lambat siang itu, menikmati musik yang mengiringi langkahnya dan merasakan setiap hembusan angin yang datang perlahan sehingga membuat rambut yang diikat menari. Tangannya mulai bergerak membenarkan posisi poni yang sudah tak layak disebut poni karena panjangnya berlebihan. Setelah beberapa saat sibuk sendiri, handphonenya bergetar.

            Aldric.

Sesaat Fressia hanya menatap nama yang tertera dengan handphonenya yang masih terus bergetar. Seperti hujan yang turun dihari yang cerah datang tiba-tiba, panggilan itu tak tersangka. Fressia memberanikan diri untuk menyentuh layar handphonenya, menggeser ikon telepon kearah kanan, lalu mengambil nafas Panjang.

“Fressia,“ Sapa Aldric dari kejauhan.

“Iya Dric?“ Sungguh Fressia mencoba dengan keras agar dapat terdengar tenang.

“kamu lagi dimana?“

“Kampus.“

“Aku lagi di Dipatiukur, aku kesana jangan kemana-mana,“ Hah? “Aku kesana, jangan pergi.“ Bukan nada memerintah seperti yang dulu sering Fressia dengar, tapi kali ini nada memohon.

“Oke?” Aldric memastikan, “Aku kesana dengan cepat.“

“Hati-hati.“ Kata singkat meluncur begitu saja dari mulut Fressia.

Tut.

Setelah panggilan tersebut terputus, ingin sekali Fressia mengutuk dirinya yang seolah sengaja mengucap kata yang menggambarkan perhatiannya tadi. Fressia ingin pergi, menyembunyikan wajahnya dari seseorang yang sebenarnya sangat dirindunya, yang lama tak ditatapnya. Hanya saja dia terlanjur berjanji. Fressia menunggu dengan gusar. Memikirkan apa yang akan dikatakan saat nanti bertemu, karena sungguh rindu tak bisa dibendung.

“Kamu dimana Sya?“ Panggilan itu .. Fressia masih mengingat nada yang selalu diucapkan Aldric jika rindu waktu dulu dan itu membuatnya ikut rindu.

“Aku digedung komunikasi, kamu tahu ?“

“Ah iya, aku kesana.“

            Sambungan telponnya terputus lagi, Fressia semakin tak karuan. Ia mengepal tanganya dengan keras, mencoba menyembunyikan rasa yang mulai tak menentu.

“Sya!“ Panggil seseorang yang masih mengendarai motornya dengan cukup keras. Fressia tersenyum sambil sedikit mengangguk. Tenang sya tenang Fressia masih menjaga senyumnya sambil terus menenangkan dirinya. Sejak berpisah ini adalah pertemuan pertamanya, dan sungguh bukan pertemuan yang diharapkannya. Fressia berjalan biasa sambil memberanikan diri menatap Aldric yang juga menatapnya lekat.

“Sudah lama ya? kamu berbeda,“ Lidah Fressia kelu tak bisa berbicara, kini ia hanya terbayang percakapan yang dulu tak pernah usai meski sudah larut malam. “aku bawa dua helm, kamu harus ikut aku.“ Aldric memberikan helm putihnya kepada Fressia, dan Fressia hanya mengangguk kemudian menyambut helm tersebut.

Dulu kamu memasangkanya Dric, kamu juga berbeda. kini dikepalanya adegan itu bermain dengan indah.

“Kemana Dric?“ Bukan hanya bayangan indah yang pernah diperankan oleh mereka saat dulu, puluhan pertanyaanpun seolah berlari ke kepala Fressia dan memaksa untuk diungkapkan. Fressia ingin tahu, akan tetapi kini bukan saatnya mencari tahu kini hanya untuk mengenang masa indah yang pernah dilalui.

“Ikut aja Sya,“ Fressia terteguh.

            Dimotor hitam itu, tawa bersama kembali datang menghampiri, membuat Fressia ingin kembali meletakkan keningnya ke punggung Aldric, hal itu yang selalu membuat Aldric berkata “Sya gua bukan tembok Sya, gue enggak mau ditempelin jidat lu, gue mau dipeluk,“ setelah kata-kata tersebut terlontar Fressia pasti tersipu, atau Aldric berkata “Gue bukan mang ojek Sya jangan jauh-jauh.” Tapi sekali lagi hari ini bukan hari-hari dua tahun yang lalu. Hari ini Aldric datang bukan untuk berkata manis tapi dia sedang kehilangan arah, dia sedang butuh teman.

“Sya kamu berubah begitu cepat, wanita yang dulu kusakiti sekarang sudah kembali mau menatapku,“ hening “ternyata aku datang diwaktu yang tepat, kini kamu sudah mau menerimaku lagi.“

kau salah Dric bisik Fressia dalam hati

“Kamu tahu Sya? sepanjang jalan pikiranku tak karuan.“ sama Dric “ bagaimana bisa aku menyakitimu dulu?“

“Dric kamu tak salah menyakitiku, aku memang menyukaimu diwaktu yang salah, disaat kamu hanya butuh seorang untuk mengiburmu,“ Aldric tertunduk “mungkin sekarangpun sama,“ Aldric menatap Fressia dalam, pandangannya menusuk, jika diijinkan Fressia ingin seperti itu lebih lama lagi “tapi sekarang aku sadar semua tak akan kembali Dric, karna kamupun sudah berubah.“

Perlahan tangan Aldric mendekat, sungguh Fressia ingin menggapai dan menggenggamnya dan tak melepasnya lagi.

 

 

                    // SELESAI//

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s