BOOK VS FILM #1: EVERYTHINK EVERYTHINK by Nicola Yoon

“Love is everythink everythink.”

Membaca buku ini membuat saya kembali pada masa-masa jatuh cinta pada pandangan pertama, menurut saya Nicola Yoon selalu berhasil menciptakan cerita dengan tema remaja yang tidak terlalu rumit namun begitulah cinta. Saya menyelesaikan buku ini dihari yang sama dimana saya menontonnya, ini hal yang tidak biasa saya lakukan namun begitulah kekuatan novel karya Nicola Yoon. Membuat saya penasaran dengan cerita versi filmnya.

Salah satu film yang menarik untuk saya yang sebenarnya tidak begitu menyukai kegiatan menonton film. Rasanya saya merasakan apa yang Maddy (tokoh wanita pertama) rasakan ketika diperutnya seolah ada kupu-kupu yang terbang kesana-kemari ketika Olly tersenyum. Tidak menontonnya saja membuat saya ikut tersenyum apalagi menontonnya.

Kisah cinta yang sederhana yang dibumbui konflik keluarga menurut saya selalu menang. Tapi lagi yang memenangkan cerita ini buat saya adalah sosok Olly, yang sejak saya membaca bukunya saja, saya langsung jatuh cinta. Seperti saya ingin kembali ke masa dimana saya jatuh cinta.

Untuk yang nonton filmnya tanpa membaca bukunya mungkin akan sedikit bingung dengan percakapan antara Olly dan Maddy yang seolah diruang angkasa karena ada seorang astronot disana, namun jelas itu adalah dunia yang di ciptakan Maddy yang sebenarnya itu percakapan via handphone mereka. Salah satu plot terbaik film ini. Bisa dibayangkan kalau hanya sekedar chat saja sepertinya akan monoton tapi tentu ini tidak, ini berhasil.

Yang berbeda dari apa yang dibayangan saya waktu baca bukunya dan nonton filmnya adalah si tokohnya, OLLY dibayangan saya sosok bad boy yang istilahnya slengean kaliya, yang lebih banyak tebar pesona (entahlah selalu begitu, kalau saya baca komik atau novel saya selalu suka tokoh bad boy) tapi ternyata di film justru Olly sosok yang biasa apa adanya. Menarik. Dan sebaliknya MADDY yang saya kira pendiam dan anti sosial karena keadaannya yang selama 18 tahun tidak pernah keluar rumah (kecuali saat umurnya 4 bulan) justru sosok yang sangat mudah beradaptasi dan ceria.

Menarik. Sungguh saya ingin jatuh cinta kembali, saat saya membaca dan menoton film ini.

—————————————————————————————————————————————–

 

Bukan kutipan, hanya kata yang saya buat:

JIKA KAMU MENCINTAINYA, DIA HARUS JADI SEGALANYA, KARENA MEMANG DIA SEGALANYA.

Apa harus saya buat pesan cinta disini? Ijinkan saya,

“Jika dunia membuatmu merasa Lelah, datanglah ada bahu untukmu bersandar. Jika dunia membuatmu menangis, kemari ada lenganku untuk memelukmu.”

Saya tak tahu untuk siapa saya menulisnya, saya hanya ingin menulisnya.

Benar tidak semua tulisan tentang cinta artinya si penulis sedang jatuh cinta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s